Faktor yang Menyebabkan Infeksi pada Gigi
Gigi yang berlubang dan berwarna kehitaman tentu dapat mengganggu
kepercayaan diri Anda. Sayangnya hal ini tidak dapat diatasi dengan
mudah, sehingga Anda perlu memperhatikan alasan dibalik infeksi yang
menyebabkan kerusakan gigi.
Gigi yang rusak biasanya disebabkan
oleh karies gigi, yaitu sebuah penyakit infeksi yang merusak struktur
gigi. Menurut Centers for Disease Control, 19 persen dari orang antara
usia 2 dan 19 tahun mengembangkan gigi berlubang yang tidak diobati.
Padahal
jika tidak ditangani, penyakit ini dapat menyebabkan nyeri, gigi
tanggal, infeksi, berbagai kasus berbahaya lainnya, dan bahkan kematian.
Berikut 5 faktor yang dapat menyebabkan karies gigi, seperti dilansir
howstuffworks)
, antara lain:
1. Usia
Studi
terbaru yang dilakukan oleh ilmuwan dari University of Illinois
menemukan bahwa air liur bayi mengandung sejumlah bakteri yang dapat
menyebabkan karies gigi pada balita. Sehingga perawatan gigi harus
diperkenalkan sejak usia 19 bulan, tetapi penelitian ini menegaskan
bahwa perawatan gigi harus dimulai sejak belum tumbuh gigi.
Orang
dewasa juga dapat mengembangkan karies gigi karena beberapa alasan,
diantaranya mengembangkan penyakit gusi yang mengekspos gigi terhadap
bakteri. Faktor risiko yang lebih umum pada orang dewasa adalah
kurangnya air liur, yang berisi cairan penetralisir asam dan membantu
membersihkan sisa-sisa makanan.
Konsumsi obat seperti penurun
tekanan darah tinggi dan obat untuk masalah jantung dapat mengurangi
aliran air liur. Sikatlah gigi secara teratur dan batasi konsumsi
minuman bersoda karena mengandung pemanis dalam jumlah tinggi yang
berisiko terhadap karies gigi.
2. Genetika
Genetika
memiliki pengaruh penting terhadap setiap perkembangan fisiologis alami
manusia. Gen tidak hanya dapat menentukan warna rambut dan tinggi tubuh
tetapi juga nertanggung jawab pada kondisi gigi.
Kekerasan
enamel gigi juga dipengaruhi oleh faktor genetika, sehingga seberapa
keras usaha untuk menjaga kesehatan gigi, berbeda dari orang ke orang.
Penyakit periodontal yang disebut penyakit gusi, juga telah dikaitkan
dengan genetika.
Penyakit gusi tersebut dapat menyebabkan
kerusakan serius pada jaringan dan tulang dari mulut sehingga
mengakibatkan infeksi parah dan kehilangan gigi.
Tentu saja, gen
bukanlah satu-satunya faktor yang memicu penyakit gusi. Gaya hidup yang
tidak sehat seperti merokok juga dapat memicu peradangan pada gusi dan
menyebabkan kerusakan sel dan jaringan.
3. Kebiasaan menggosok gigi
American
Academy of Pediatric Dentistry merekomendasikan bahwa seorang anak
harus memulai menjaga kebersihan mulut jauh sebelum tumbuh gigi. Bau
mulut, noda pada gigi, atau gigi berlubang disebabkan karena perawatan
mulut yang buruk sejak balita.
Ajari anak menyikat gigi setiap 30
menit setelah selesai makan atau setidaknya 2 kali sehari. Kunjungi
dokter gigi untuk memperoleh saran perawatan gigi yang tepat untuk anak
Anda.
4. Makanan asam
Makanan asam seperti
jeruk dapat berkontribusi terhadap kerusakan gigi. Makanan asam
berbahaya karena dapat menciptakan kondisi yang menguntungkan bagi
bakteri jahat dalam mulut.
Makanan asam dapat mengikis enamel
gigi dan menyebabkan gigi berlubang. Hindari makan makanan yang terlalu
asam atau segera netralkan kondisi mulut setelah makan makanan asam.
Jangan
langsung menyikat gigi setelah makan makanan asam, karena asam dapat
melembutkan enamel dan membuatnya lebih rentan ketika disikat.
Sebaliknya, bilas mulut Anda dengan air atau obat kumur dan tunggu
hingga 30 menit sebelum menyikat gigi.
5. Makanan manis
Mulut
dihuni oleh bakteri pemakan gula yang sangat menyukai makanan manis.
Bakteri pemakan gula tersebut akan mengubah gula dan menyebabkan kondisi
asam pada mulut yang dapat mengikis enamel gigi.
Hanya dalam
waktu sekitar 20 detik setelah mengonsumsi makanan manis, bakteri sudah
mengubah kondisi mulut menjadi asam yang dapat bertahan sampai setengah
jam. Sehingga penting untuk menggosok gigi setelah makan makanan manis.